Google+ Followers

Sabtu, 27 April 2013

ANALISIS NOVEL SALAH ASUHAN


CINTA TERLARANG DARI DUA LATAR BUDAYA
BERBEDA DALAM NOVEL “SALAH ASUHAN”
Oleh:
Enif Nurul Khoirubianti
110211413115/eniph.ryn@gmail.com

A. Pendahuluan
            Dewasa ini, sering terjadi dalam kehidupan nyata bebasnya pernikahan yang didasarkan pada dua budaya yang berbeda atau yang akrab disebut pernikahan campuran. Hal semacam mulai ini ada sejak tahun 1920 dan hingga saat ini semakin menjamur di kalangan masyarakat umum umum. Padahal harus diketahui bahwa pernikahan campuran berarti melibatkan dua budaya yang berbeda.Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 :
”Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.”
            Ayu (2007) menyatakan Ada beberapa konsekuensi yang harus anda terima bila menikah dengan seorang WNA. Salah satunya yang terpenting yaitu terkait dengan status anak. Berdasarkan UU Kewarganegaraan terbaru, anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria WNI, kini sama-sama telah diakui sebagai warga negara Indonesia. Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda, dan setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin maka ia harus menentukan pilihannya.Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau setelah kawin.
            Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa telah ada dengan jelas perbedaan antara kedua budaya yang tidak dapat disatukan, perbedaan yang ada akan berimbas pada kewarganegaraan anak yang bergelar ganda.Dalam novel ini, pengarang begitu kuatnya menceritakan kisah cinta dua insan yang memiliki latar budaya berbeda. Perbedaan adat budaya daerah timur dengan budaya barat digambarkan melalui perkawinan Hanafi dan Corie, yang pada akhirnya menimbulkan berbagai masalah bagi diri mereka. Oleh karena itu, apresiasi dibawah ini akan membahas secara lebih detail bagaimana proses rasa cinta itu tumbuh pada mereka dan dampak apa saja yang mereka peroleh seusai menikah.
B. Analisis dan Apresiasi
1. Awal
Tempat bermain tenis yang dilindungi oleh pohon pohon ketapang sekitarnya masih sunyi cahaya matahari yang diteduhkan oleh daun daun di tempat bermain itu masih keras, karena dewasa itu  baru pukul tengah lima petang hari.
            Novel salah asuhan ini diawali dengan narasi yang mengambarkan latar suasana perbincangan Hanafi dan Corie yang sedang duduk duduk dibawah pohon didekat lapangan tenis. Awalnya perbincangan mereka terlihat hangat dan baik-baik saja, namun pada akhirnya saat Hanafi menyinggung budaya orang Eropa dengan cara yang kurang sopan, sehingga membuat perbincangan mereka berubah menjadi bersila pendapat. Corrie dan Hanafi telah bersahabat cukup lama, mereka menjadi sering bertemu dan keluar bersama. Karena seringnya mereka bersama, timbul perasaan cinta di hati Hanafi untuk sahabatnya Corrie.

2. Tengah
Pagi itu seperti biasa Ayah selalu menyisihkan waktu untuk berbincang-bincang dengan Corrie. Dalam perbincangan itu, Corrie bertanya kepada ayahnya apakah papanya mau menerimanya jika ia jatuh cinta pada orang pribumi?seketika, tuan Busee berusaha untuk menolaknya dengan halus karena dia tidak ingin melihat anaknya menderita seperti nasib mamanya, karena papa Corrie nekat menikahi mamanya yang merupakan pribumi dari Solok, mereka dikucilkan oleh bangsanya sendiri. Maka tuan Busse menceritakan bagaimana perlakuan yang mereka terima setelah menjadi sepasang suami istri yang berbeda kebangsaan.
“Didalam pesta pesta besar, tidak ketinggalan papa dipanggil. Tapi acap kali benar orang melupakan mamamu. Dimana bertemu, semua orang mengangkat topi kepada papa, kebanyakan lupa bahwa mamamu turut berjalan disebalah papa. Pendeknya, papa tidaklah kurang menanggung penderitaan itu. Dari sebab mamamu tidak diakui itulah maka kami berdua menyisih dari pergaulan”.
           

            Dari narasi tersebut dapat diketahui begitu besar perbedaan perlakuan yang diterima bangsa timur dimata bangsa barat. Adat kebiasaan budaya yang berbeda sangatlah sulit untuk dipersatukan. Dari cerita tuan Busse dapat kita ambil suatu pelajaran bahwa kehidupan dua orang yang melakukan perkawinan campuran,yaitu antarabangsa timur dengan bangsa barat tidak akan menciptakan suatu kesatuan yang damai. Bangsa timur tidak dapat disamakan dengan bangsa barat, karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar. Oleh karena itu, mereka akan mengucilkan orang barat yang menikah dengan orang timur dari pergaulan mereka. Seperti yang ditunjukkan pada cuplikan dialog berikut ini.
Tapi seseorng perempuan bangsa Eropa, yang kawin dengan orang Bumiputra, selama di tangan suaminya itu, akan kehilangan haknya sebagai orang Eropa. Terlebih hina kedudukannya di dalam pergaulan bangsa Eropa sendiri. Jika nyonya itu sampai beranak, dipandang, bahwa ia turut mengurangi derajat bangsa Eropa. Terasalah olehmu, Corrie, perbedaan antara kedua perkawinan itu?”.
            Dalam perdebaatan dengan ayahnya itu, telah sangat jelas menguatkan argumen Ayah Corrie sebelumnua, namun Corrie tidak mendengarkan nasehat dari Ayahnya ia tetap membela Hanafi. Hal ini ia lakukan karena Corrie mulai merasakan cinta kepada Hanafi, sahabatnya.

3. Akhir
Meskipun budi nyonya itu tidak kasar, tetapi di dalam suatu hal terasa oleh Hanafi, bahwa ia di dalam rumah itu diterima dengan setengah hati saja, seolah-olah mengawani orang yang tidak takut. Meskipun sudah tiga bulan ia diam disana, tapi yang boleh dikatakan tempat kediamannya hanyalah kamar di muka tempat ketidurannya saja.
Lama waktu berjalan, Hanafi tidak tahan dengan situasi itu, meskipun temannya bersikap baik padanya tetapi prilaku istrinya jelas menunjukan penolakan akan kehadiran Hanafi di tengah keluarga mereka. Oleh karena hal itu, Hanafi berniat untuk pindah ketempat lain. Namun dia bingung harus kemana. Semenjak dia memutuskan untuk bercerai dengan Rapiah, dan memilih menikahi Corrie, keluarga mereka secara drastis dikucilkan dari pergaulan bangsa barat. Orang-orang dikampung halamanyatidak mau lagi menerima Hanafi.
Hanafi dianggap telah berkhianat terhadap adat-istiadatnya dengan berbindah kebangsaan menjadi bangsa barat. Corrie pun ikut menangung akibat yang telah dilakukan oleh Hanafi, ia tidak lagi diterima dalam keluarga besarnya dan dikucilkan dari pergaulan bangsanya.
Oleh karena keadaan yang demikian, terasalaholeh Hanafi bahwa ia mesti pindah dari rumah itu. Tapi kemana? Telah beberapa orang famili ditanya tak seorangpun suka menerimanya. Tak samar lagi, sekalian mereka itu mengandung belas kasihan kepada Corrie. Hanafi sudah memegang adat Belanda, tentulah tak akan senang menumpang dirumah seorang Bumiputera.

DAMPAK MEMAKSAKAN CINTA DARI DUA BUDAYA BERBEDA
Yang sangat menyedihkan hati ibunya ialah karena bagi Hanafi segala orang yang tidak pandai bahasa Belanda, tidak masuk bilangan. Segala hal ikhwal yang berhubungan dengan orang Melayu, dicatat dan dicemoohkannya, sampai kepada adat lembaga orang Melayu dan agama islam tidak mendapat perindahan serambut juga. Adat lembaga disebutkan ‘kuno’ agama islam ‘takhayul’ . Tidak heran, kalau ia hidup tersisih benar dari pergaulan orang Melayu
Dikarenkan Hanafi telah lama berada dalam pergaulan orang barat, Hanafi dengan mudah melupakan adat ketimuran yang telah mendarah daging pada dirinya. Tidak hanya itu, Hanafi secara terang-terangan mencemooh adat bangsanya sendiri, menagangapnya kuno dan agama islam ditinggalkannya pula. Selain itu, Hanafi mulai mengabaikan nasehat ibunya, meningalkan segala hal yang berkaitan dengan adat ketimuran dan belajar  memperdalami adat orang barat.
Dua tahun sudah terlampaui, setelah kejadian hal-ikhwal yang diceritakan di atas. Bagi keluarga di Sumatera Barat, Hanafi sudah dipandang keluar dari kaum. Ia sudah menjadi ‘orlando’, sudah ‘bernyonya’, sedang sepucuk pun surat tak ada yang datang daripadanya, sekedar menandakan bahwa ia masih hidup bagi kaumnya.
Dari narasi tersebut simunculkan sebuah permasalahan karena Hanafi lama tak memberi kabar pada keluarganya di kampung, Hanafi dinggap sudah keluar dari bangsa timur. Karena ia telah menganti kebangsaanya menjadi bangsa barat,        Hanafi merasa dirinya telah masuk ke dalam golongan orang barat. Dia merasa mendapat pergaulan yang baik dari mereka setelah ia merubah kebangsaanya. Namun hal itu sia-sia karena semua teman temanya tak mengangap perubahan itu dan mulai menjuahinya. Hal itu terlihat saat teman temanya selesai bermain tenis, tak seorangpun mau menyapanya, seolah-olah mereka ingin menunjukkan kebencianya pada Hanafi karena ia seorang anak Bumi Putera.
Mula-mula Hanafi dan Corrie menjadi lid daripada kumpulan bermain tennis yang terdiri dari pegawai-pegawai kantor Gubernemen di Betawi. Sekalian kawan-kawan itu menunjukkan adat yang tertib pada mereka: seorang pun tak ada yang menghinakannya, tapi sementara itu mereka berasa tersisih dari pergaulan yang banyak.
Dengan keadaan seperti itu, Corrie merasa begitutertekan dan tidak nyaman dengan keadaanya yang sekarang. Hanafi merasa bersalah telah meminta Corrie menjadi isterinya. Namun mereka tetap ingin memperbaiki keadaan, merubahnya seperti suasana sebelumnya. Tapi seberapa besar usaha mereka untuk menyatukanya, tetap saja mereka tidak dapat menerima kehadiran Corrie dan Hanafi.
“Benar Han sebab aku bersuamikan orang Melayu, maka dunia menjadi sempit bagiku. Itu suatu kebenaran, tidak dapat dibantah karena sudah terbukti. Han, rupanya tidak lain karena batinku tidak kuat menghadapi hidup begini. disisiih orang!itulah yang menjadi perubahan atas laku perangaiku.
Dari dialog tersebut, dapat kita ketahui bagaimana perasaan hati Corrie yang sebenarnya atas kejadian yang merubah hidupnya, kala itu ia begitu tersiksa dengan keadaan yang menimpa dirinya. Belum ada seminggu pernikahan keduanya diwarnai dengan pertengkaran silah pendapat. Perselisihan itu ditimbulkan oleh banyaknya penolakan akan kehadiran mereka dari pihak lain yang tidak berkenaan dengan perkawinan mereka. Hal tersebut, selalu memicu pertengkaran dianatara mereka, lama waktu berjalan peristiwa tersebut membuat saling merengganglah tali kasih antar kedua suami isteri itu.


Terjadi perselisihan dan pertengkaran mewarnai kehiduppan pernikahan mereka setiap hari. Hingga suatu ketika Hanafi pulang dari kantor, ia melihat tempat abu rokok berisi puntung-puntung baru. Dengan marah dihempaskanya sebuah pistol diatas meja, diketamnya tangan Corrie. Hanafi menuduhnya berzina dengan laki- laki lain, namun Corrie tetap berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tetapi Hanafi tidak mempercayainya.Corrie merasa sakit hati dan benci akan sikap Hanafi, ia pergi meninggalkan Hanafi dan berniat menceraikannya.
Sebenarnya bagi Corrie sudah terbuka waktu yang baik buat memberi keterangan, karena suaminya sudah mulai bertanya. Tapi hatinya semakin panas. Serambut pun tak ada lagi cintanya kepada Hanafi pada saat itu; sukalah ia bercerai seumur hidup. Dan pada hematnya, inilah pangkal perceraian yang sebaik-baiknya.
Setelah peristiwa yang menegangkan itu telah selesai, Corrie memutuskan untuk meninggalkan rumah untuk menempuh kehidupan barunya ia menginap disebuah kontrakan. Namun dimanapun Corrie berada tetap tidak ada seorangpun yang mau bersahabat dengannya.Semenjak keputusanya menikah dengan orang pribumi memang berbagai kalangan menentangnya hingga ketika mereka bercerai perlakuan masyarakat terhadapnya tetap sama, merek tetap tidak mau menerima kehadiran Corrie ditengah-tengah mereka.
Lain Corrie lain pula Hanafi. Ketika Hanafi memulai untuk menempuh kehidupan baru datanglah seorang sahabat bernama Pitt, ia menasehati Hanafi. Dia telah menyadrakan Hanafi akan kesalahanya selama ini. Misalnyasikap durhaka pada ibunya,sikapnya yang telah menyianyiakan Rapiah, sikapnya yang menuduh Corrie berzina. Akhirnya dia memutuskanpergi mencari keberadaan Corrie ke Semarang. Hanafi ingin meminta maaf pada Corrie, namun saat itu diketahui bahwa Corrie sedang menderita sakit keras dan dirawat dirumah sakit, dan betapa terpukulnya hati Hanafi, saat itu di harus menerima kematian Corrie.
Empat belas hari lamanya Hanafi tinggal dipelihara di Rumah Sakit Paderi di Semarang. Dalam waktu yang sekian adalah tiga hari lamanya ia tidak sadarkan diri, yaitu dari waktu jatuh pingsan melepas isterinya itu. Maka terbayanglah pula segala keadaan Solok dalam kenang-kenangannya. Mengakulah ia, bahwa kehidupannya ialah hidup yang secelaka-celakanya.
Dalam sakitnya Hanafi tersadar akan kesalahan yang ia lakukan pada Ibu dan Rapiah juga penyesalannya kepada Corrie. Setelah melalui perjalanan yang panjang, sampailah ia dikampung halamanya. Betapa terkejutnya hati rapiah dan ibu melihat Hanafi berdiri di hadapanya. Walaupun masayarakat sekitar enggan menerima kehadiran Hanafi, namun dengan besar hati Ibu dan Rapiah begitu  terbuka menyambutnya. Hari demi hari Hanafi hanya termenung. Dalam renungannya ia mengingat semua kesalahnnya terdahulu.
Dengan bimbang hati mendekatlah ibunya kekepalanya, lalu Hanafi berkata denagn suara lemah- lembut,
”Ibu...ampuni..akan..dosa..ku..Syafeipelihara...baik-baik.Jangan..diturutnya..jejakku..”
Ya anakku sudahlah lama engkau aku ampuni.Hal anakmu janganlah engkau risaukan. Mengucaplah, Hanafi. Kenanglah nama Tuhan dan Rasul, supaya lurus jalanmu”.
Hanafi memandang dengan sedih kepada ibunya, berkata, ”Lailahaillallah.Muhammad dar Rasulullah!” Dalam berjabat tangan dengan ibunya melayanglah jiwa Hanafi.
Gambaran yang terlihat pada cuplikan teks Dialog dan Narasi tersebut mengenai keadaan Hanafi. Hari demi hari kesehatannya semakin memburuk. Sakitnya bertambah parah  Ibunya mengundang dokter untuk merawatnya. Namun saat melihat kondisi Hanafi, dokterpun merasa tidak mampu membantu menyembuhkan. Akhirnya, beberapa saat setelah dokter pergi Hanafi menggapai tangan ibunya lalu berpesan kepadanya agar menjaga Syafe’i baik-baik. Agar kelak tidak meniru jejaknya. Dan dipenghujung hidupnya dia meminta maaf kepada ibunya.





C. Penutup
            Keunggulan novel “Salah Asuhan” karya Abdoel Moeis inibanyak memberikan pengetahuan akan dampak yang diperoleh seseorang jika ia tetap memaksakan untuk menikah dengan dua latar budaya yang berbeda. Dari hal tersebut dapat ditarik suatu pelajaran berharga yang disampaikan penulis dalam setiap alur cerita berkaitan dengan bagaimana sikap yang harus kita pegang teguh sebagai manusia pribumi yang selalu menunjukkan adat ketimuran, yang menjadi ciri khas anak pribumi.
Dari segi bahasa, bahasanya cukup sulit untuk dipahami karena masih menggunakan bahasa Melayu, sehingga butuh waktu yang cukup lamu bagi pembaca untuk memahami setiap peristiwa yang terjadi. Terlepas dari itu semua cerita ini sangat menarik untuk dibaca, pembaca diberikan bekal pengetahuan untuk menata hidupnya agar lebih baik dan mencintai budaya sendiri, patuh terhadap perintah orang tua dan melaksanakan ajaran agama.

D. RUJUKAN
Ayu. 2007. prosedur perkawinan campuran di indonesia, (online),   
Moes, Abdoel. 1928. Salah Asuhan. Jakarta : Balai Pustaka



1 komentar:

  1. assalamualaikum...
    boleh tak saya nak [astikan kajian yang dilakukan oleh Enif ni untuk pengajian beliau di peringkat apa? sarjana muda atau sarjana (master) atau PhD??

    BalasHapus