Google+ Followers

Sabtu, 27 April 2013

SINOPSIS NOVEL SASTRA 3


Judul Novel : PEREMPUAN DI TITIK NOL
Penulis     : Nawal el - Saadawi
Pengantar    : Mochtar Lubis
Penerjemah  : Amir Sutaarga
Novel  Periode : 1989
Sinopsis  :
Firdaus merupakan seorang narapidana wanita yang divonis gantung diri karena telah membunuh seorang germo laki-laki.Firdaus yang merupakan pelacur kelas atas di kota Kairo,menyambut dengan senang hukuman gantung yang dia dapatkan.Dalam penjara dia menolak semua pengunjung dan tidak mau berbicara dengan siapapun juga.Biasanya pun dia tidak menyentuh makanan sama sekali,dan tidak tidur sampai pagi hari.Penjaga penjara yang setiap hari mengamatinya ketika ia sedang duduk sambil memandang dengan kosong selama berjam-jam merasa khawatir dengan sikap Firdaus.Bahkan,ia pun menolak untuk menandatangani permohonan kepada presiden agar hukumannya dapat diubah.Hingga pada suatu hari,sebelum besok vonis gantung dilaksanakan,Firdaus meminta bertemu dengan seorang dokter penjara yang selama ini turut memperhatikan sikapnya.Dalam pertemuannya Firdaus menceritakan kisah hidupnya sejak masa kecilnya di desa hingga ia tumbuh dewasa.
Sejak kecil Firdaus tumbuh pada lingkungan yang salah.Bahkan,Firdaus kecil tak mampu mengenali mana ayah dan ibunya.Firdaus senang bersekolah,dan dia pun berhasil menamatkan SMA.Namun,seketika itu pula kehidupannya berubah.Istri pamannya menyarankan agar Firdaus dinikahkan dengan seorang laki-laki yang umurnya lebih tua dari dirinya.Firdaus pun menuruti apa yang telah diperintahkan kepada dirinya.Namun pernikahan tak bertahan lama,Firdaus memilih melarikan diri karena tidak tahan dengan kelakuan suaminya.Dalam pelarianya,Firdaus bertemu dengan beberapa laki-laki dari berbagai kalangan,mulai dari kalangan biasa hingga kalangan pemerintahan.Mereka semua adalah  laki-laki yang tak bermoral dan hanya memanfaatkan dirinya untuk memuaskan nafsu birahinya.Berkali-kali Firdaus mengalami kekerasan dan penipuan dari orang-orang disekitarnya yang menimbulkaan kerugian besar bagi hidupnya.
Hingga dia tersadar dan mencoba menbuat perubahan pada dirinya menuju kehidupan yang lebih baik menjadi wanita terhormat.Firdaus memanfaatkan ijazah sekolah menengahnya,beberapa surat penghargaan  untuk mencari suatu pekerjaan yang terhormat dan dia pun mendapatkan kesempatan itu.Beberapa bulan dia bekerja,Firdaus mulai merasakan perubahan pada dirinya.Dia mampu merasakan hidupnya menjadi lebih bermannfaat dan merasakan indahnya kehidupan yang tak pernah dia dapatkan.Ketika Firdaus duduk santai ditaman,melepas lelah setelah bekerja,seorang karyawan yang bernama Ibrahim menghampirinya.Semenjak pertemuan itu mereka menjadi semakin dekat.Hingga  suatu ketika,saat Firdaus dan Ibrahim duduk dalam satu mobil saat perjalanan menuju kantor.Firdaus menceritakan kisah hidupnya dari dia kecil hingga dewasa,begitu pula Ibrahim menceritakan hal yang sama kepadanya.Semakin sering pertemuan itu terjadi,timbul rasa cinta untuk Ibrahim.Firdaus merasa nyaman dan bahagia saat bersamanya.Namun rasa itu tak bertahan lama,setelah mengetahui Ibrahim telah bertunangan dengan anak presiden direktur.Rasa sedih,kecewa,sakit hati merasuk dalam tubuhnya,hingga Firdaus memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya.Firdaus kembali kepada pekerjaannya yang terdahulu,namun kali ini dia merasa senang dan nyaman dengan keadaanya sekarang,karena keuangan dari hasilnya melayani laki-laki benar-benar ia kelola sendiri.Dan ternyata hasilnya mampu membuat Firdaus hidup layak.Tetapi,tak bertahan lama,Firdaus kembali menderita setelah kedatangan germo laki-laki yang merusak kebahagiaanya.Merasa terkekang Firdaus marah dan memberontak kepada sang germo.Dibunuhnya germo itu dengan tagannya sendiri.Dia cabik-cabikkan pisau diatas tubuh laki-laki tersebut,lalu pergi dan ditangkaplah ia oleh polisi karena perbuatannya.
Amanat : 1.Janganlah mudah mempercayai seseorang yang baru kita kenal.Karena belum                   tentu dia bermaksud baik terhadap kita.
               2.Sebagai seorang wanita patutlah kita mampu menjaga kehormatan dan prilaku diri sendiri agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas
               3.Seharusnya mereka yang menjadi anggota  petinggi pemerintahan haruslah memiliki moral yang baik sehingga mampu menjadi teladan untuk rakyatnya.
              4.Tidak ada kata terlambat jika seseorang ingin merubah kehidupannya menjadi lebih baik dan terhormat.

Komentar : Novel Perempuan Di Titik Nol mengisahkan perjuangan seorang perempuan












Judul Novel : Salah Asuhan
Penulis    :  Abdoel Moeis
Novel Periode : 1928
Sinopsis :
Hanafi dikirim ibunya ke Betawi untuk bersekolah di HBS (Hoogere Burger School). Walaupun ibu Hanafi hanyalah seorang janda, dia menginginkan anaknya menjadi orang pandai. Karena itu, ia bermaksud menyekolahkan Hanafi setinggi-tingginya. Masalah biaya, dia berusaha keras untuk selalu memenuhinya walaupun harus meminta bantuan kepada mamaknya, Sutan Batuah.
Selama di Betawi, Hanafi dititipkan pada keluarga Belanda, sehingga dia setiap hari dididik secara Belanda dan bergaul dengan orang-orang Belanda. Pergaulan Hanafi setamat HBS juga tidak terlepas dari lingkungan orang-orang Eropa. Hal ini karena dia bekerja di kantor asisten residen di Solok. Dia sangat bangga menjadi orang Belanda walaupun sebenarnya dia seorang pribumi asli. Gaya hidupnya sangat kebarat-baratan. Bahkan, terkadang melebihi orang barat yang sebenarnya.
Selama bergaul dengan orang-orang Eropa, Hanafi jatuh hati pada salah seorang gadis Eropa bernama Corrie. Corrie adala seorang gadis indo Perancis-Belanda. Hubungan keduanya memang akrab. Mereka suka mengobral berdua. Corrie mau bergaul dengan Hanafi hanya sebatas teman karena mereka sering bertemu. Namun, bagi Hanafi, hubungan pertemanan itu diartikan lain, dia merasa bahwa Corrie pun mencintai dirinya seperti yang ia rasakan. Ketika Hanafi mengemukakan isi hatinya, Corrie menolak secara halus. Corrie merasa tidak mungkin menjalin hubungan dengan Hanafi karena perbedaan budaya di antara mereka. Corrie adalah peranakan Eropa, sedangkan Hanafi orang pribumi. Namun, tampaknya Hanafi tidak mengerti penolakan itu.

Untuk menghindari Hanafi, Corrie pindah ke Betawi. Di Betawi, dia menegaskan kembali kepada Hanafi mengenai hubungan mereka melalui surat. Dia meminta Hanafi untuk melupakan dirinya. Menerima surat tersebut, Hanafi sangat terpukul dan jatuh sakit. Selama sakit, Hanafi banyak mendapatkan nasihat dari ibunya. Ibunya membujuknya untuk menikahi wanita pribumi pilihan ibunya, Rapiah.
Perkawinan yang tidak didasari perasaan cinta itu membuat keluarga Hanafi-Rapiah tidak pernah tenteram. Hanafi sering menyakiti hati Rapiah, marah-marah, dan memaki-makinya hanya karena persoalan sepele. Namun, Rapiah tak pernah melawan dan semua perlakuan Hanafi diterimanya dengan pasrah. Hal itu membuat kagum ibu mertuanya.
Pada suatu hari, Hanafi digigit anjing gila. Dia harus berobat ke Jakarta. Di Jakarta, dia bertemu dengan Corrie, gadis yang selalu dirindukannya. Hanafi berusaha keras untuk memperoleh Corrie. Dia segera mengurus surat-surat untuk memperoleh hak sebagai orang Belanda. Setelah surat-surat tersebut selesai, dia memohon Corrie agar bersedia bertunangan dengannya. Karena rasa ibanya kepada Hanafi, dengan berat hati Corrie menerima permintaan Hanafi. Corrie tahu, bahwa pertunangan itu akan membuat dirinya dijauhi oleh teman-teman Eropanya.
Pesta pertunangan itu dilaksanakan di rumah seorang teman Belanda Corrie. Tuan rumah itu tidak begitu ramah menyambut pertunangan mereka. Dia tidak suka melihat dan bergaul dengan orang Belanda berkulit sawo matang. Namun, pertunangan itu tetap dilaksanakan dalam suasana hambar.
Sementara itu, Rapiah dan ibunya tetap menunggu kedatangan Hanafi di kampungnya, walaupun mereka telah mengetahui bahwa Hanafi akan menikah dengan Corrie. Walau ditinggalkan suaminya, Rapiah masih tetap tinggal bersama mertuanya. Hal itu atas permintaan ibu Hanafi. Dia menyayangi Rapiah melebihi rasa sayangnya kepada Hanafi. Dia kagum atas kesabaran dan kesetiaan Rapiah terhadap anaknya. Padahal perlakuan Hanafi terhadap Rapiah sangat keterlaluan, namun Rapiah selalu memaafkannya.
Sementara itu, rumah tangga Hanafi dan Corrie tidak seperti yang mereka harapkan. Sedikit pun tidak ada ketentraman dan kedamaian yang sebelumnya mereka harapkan. Keluarga mereka dijauhi oleh teman-teman mereka sendiri. Keduanya hidup dalam kondisi yang membingungkan. Bangsa Eropa tidak mengakui mereka. Demikian pula, bangsa Hanafi tidak mengakuinya karena keangkuhan dan kesombongan Hanafi.
Amanat  :Cerita Novel ini menceritakan tentang percintaan dua insan yang berbeda kebangsaan dan seorang ibu yang salah mengasuh anaknya sehingga anaknya menjadi anak yang lupa diri, keras kepala, dan tidak bertanggung jawab. Ini merupakan peringatan bagi kita agar lebih mengerti arti kehidupan yang sebenarnya. Sejalan dengan cerita pada novel ini, beberapa amanat yang dapat ditarik oleh pembaca adalah sebagai berikut :
1.Jalani hidup apa adanya sesuai nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
2.Patuhi aturan-aturan yang ada dalam agama.
3.Jangan memandang enteng pada orangtua.
4.Setinggi apapun pendidikan kita, tetap menghargai orang di sekeliling kita. 5.Harus pandai menimbang perasaan orang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar